Penulis novel kawakan asal Surabaya, Suparto Brata menerima penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Timur. Suparto Brata dinobatkan sebagai sastrawan berdedikasi tinggi.
Dalam pemberian penghargaan ini, Balai Bahasa Jawa Timur melibatkan tiga penilai yang terdiri dari Dr. Putera Manuaba dari Uneversitas Airlangga Surabaya, Dr. M. Shoim Anwar dari Universitas Negeri Surabaya, dan Widodo Basuki mewakili praktisi sastra dan budaya.
Setiap hari, Suparto Brata membiasakan diri menulis beberapa jam secara disiplin. Dedikasinya di dunia sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra Jawa, tidak diragukan lagi. “Jika Penghargaan Sastra kategori sastrawan berdedikasi yang memberi kriteria penerimanya antara lain yang berkarya minimal 30 tahun, Suparto Brata dua kali lipat dari batas tersebut,” kata tim penilai.
Suparto Brata berkarya tanpa henti, menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Karya-karyanya tersebar di berbagai media dan diterbitkan dalam bentuk buku. Dia berkarya dalam bentuk crita cekak (cerita pendek), cerpen, novelet, novel, cerita bersambung, skenario film, naskah drama, cerita detektif, cerita silat, menulis sejarah, menulis ulang cerita rakyat, dan menulis kritik/esai. Sampai tahun 2007, Suparto Brata telah menghasilkan tidak kurang dari 130 karya, sebuah angka yang menakjubkan. Bukan hal yang aneh ketika tahun 2007 Suparto Brata mendapatkan The Sea Write Award dari pemerintah Thailand.
Tema-tema yang ditulis Suparto Brata juga beragam. Tentu saja, pilihan tersebut mengandung kelebihan dan kelemahan tersendiri. Struktur karya-karya Suparto Brata sangat dekat dengan tradisi lisan. Penuturan tokoh-tokohnya memberi kesan seperti orang jagongan, kadang lucu, tapi dapat pula serius dan romantis. Ada nuansa optimistis dalam karya-karyanya.
Sebagai produk budaya, karya-karya Suparto Brata memberi warna dalam perjalanan sastra Indonesia. Nafas sejarah terasa sangat kuat dalam karya-karyanya. Disinilah kelebihan Suparto Brata dalam fiksi yang digarapnya. “Dia dan karyanya merupakan saksi dan sumber sejarah hingga mulai dilirik oleh sejarawan. Suparto Brata sebagai pelaku sejarah memberi kontribusi dalam memahami sejarah bangsanya untuk generasi mendatang melalui karya sastra yang dituturkannya,” sambung tim penilai.
Tentu saja, Suparto Brata tidak hanya berdiam di kamar dalam menekuni dunianya. Dia rajin mendatangi berbagai forum sastra dan seni budaya, khususnya di Surabaya dan Jawa Timur. Dalam acara diskusi sastra yang banyak didatangi kaum muda itu, sering terlihat ada priyantun sepuh yang guyup bersama mereka. Dialah Suparto Brata.
Meski usianya sudah sepuh, Suparto tetap gaul dan tidak terpencil. Ketika dunia internet berkembang, Suparto Brata pun aktif memublikasikan karya dan aktivitasnya melalui dunia maya itu dalam blognya agar dapat akrab dengan dunia kaum muda. “Oleh karena itu, kami berkeyakinan bahwa Suparto Brata adalah sosok yang layak mendapat Penghargaan Sastra Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 ini untuk kategori sastrawan berdedikasi,” tutup tim penilai.
sumber

0 comments:
Post a Comment